Vaksinasi

Jangan Biarkan Difteria Merajalela, Merenggut Nyawa

Entah sehancur apa rasa hati ibu Anna O’Marra, ketika nyawa delapan dari sembilan anaknya harus terenggut karena difteri ketika terjadi wabah difteri pada masa itu di Kansas, USA, tahun 1903. Bayangkan, delapan! Kehilangan satu nyawa saja rasanya sudah seperti hilang separuh jiwa, apalagi delapan. Pada tanggal 10 April 1903, Julia O’Marra, salah satu putri ibu Anna, gadis berusia 9 tahun menjadi lemah, sesak, lalu bernapas satu-satu akibat selaput keabu-abuan yang meliputi tonsil dan tenggorokannya. Selaput tersebut kemudian memblok seluruh jalan napasnya sehingga akhirnya empat hari kemudian, Julia meninggal. Empat hari selanjutnya, di pagi hari Sabtu, Anastasia, 13 tahun, anak ibu Ana lainnya juga meninggal akibat penyakit yang sama. Adiknya, James usia 4 tahun kemudian menyusul pada malam harinya. Minggu pagi berikutnya, Ellen, anak gadisnya 17 tahun juga meregangkan nyawa, disusul oleh adiknya Maggie bayi usia 8 bulan yang menyusul arwah kakaknya pada keesokan harinya. Pada 20 April, kakak tertua, William 21 tahun dan Nora 6 tahun, juga meninggal akibat penyakit yang sama. Dua anak yang tersisa, Mary 18 tahun dan Lizzie 11 tahun, nampaknya bertahan setelah diberi terapi anti-toksin. Tetapi ternyata, tanggal 5 May, Mary juga harus dikuburkan akibat miokarditis, komplikasi dari difteria.1 Menangis dan luluh lantak hati ibu Ana…

Vaksinasi

Bahayanya Menolak Imunisasi

Mulanya, ia adalah seorang wanita yang sungguh rupawan. Namun, kecantikan itu lenyap pada usianya yang ke 26 setelah penyakit smallpox (variola atau cacar monyet) menyerangnya dan meninggalkan jejak parut alias bopeng di wajahnya. Alis wajahnya pun menghilang akibat penyakit yang sama(1). Di masanya dahulu, smallpox memang penyakit yang cukup mengerikan, penyakit infeksi pembunuh terbesar. Di akhir abad ke-18 penyakit ini telah membunuh 400.000 warga eropa per tahunnya, yang sebagian besar adalah anak-anak. Bahkan diperkirakan sekira 300–500 juta orang di abad ke-20 telah meninggal akibat penyakit ini(2). Selain memunculkan bopeng yang membuat penderitanya menjadi buruk rupa dan menyebabkan kematian, smallpox juga menyebabkan kebutaan serta penyakit tulang. Penyakit yang disebabkan oleh virus variola ini pun sangat mudah menular, hanya lewat udara, percikan ludah atau berdekatan saja, orang lain bisa tertular(3), sungguh seram bukan? Untungnya, vaksinasi untuk melawan smallpox yang pertama kali ditemukan oleh Edward jenner berhasil membuat penyakit ini lenyap dari muka bumi. Tahun 1979, WHO mengumumkan bahwa penyakit ini telah berhasil dieradikasi(4). Bayangkan kalau penyakit ini masih ada hingga kini, berapa banyak wajah rupawan yang harus jadi korban, berapa banyak nyawa lagi yang harus terbang. Edward Jenner patut diberi penghargaan memang. Namun, dibalik sukses Edward Jenner sebagai penemu vaksin pertama kali,…

Vaksinasi

Review Buku: “Pilihan yang mematikan-Bagaimana gerakan anti vaksin mengancam kita semua”

‘Deadly Choices: How the Anti-Vaccine Movement Threatens Us All’ oleh Paul A. Offit, seorang professor pediatric dalam bidang penyakit infeksi, virology dan imunologi. Buku ini sangat recommended untuk para orangtua yang sedang bingung soal pro dan kontra imunisasi, untuk para dokter, dan juga siapapun yang berkecimpung dengan dunia kesehatan anak-anak. Sayangnya, buku ini berbahasa Inggris, baru terbit pula, jadi pasti masih sulit didapatkan di Indonesia. Berikut ini sedikit cuplikan isinya, semoga biar pun tidak bisa membaca bukunya, masih bisa mendapatkan gambaran dan mendapatkan manfaatnya. Buku ini membuat kita bisa melihat dari atas apa sih sebetulnya yang terjadi dengan dunia per-vaksinan di dunia sejak jaman dulu sampai sekarang. Bagaimana perjalanan pembuatan vaksin, apakah mulus-mulus saja? Bagaimana pula perjalanan para anti vaksin. Apa betul kandungan vaksin tidak aman? Apa pula bahayanya kalau sekelompok orang menolak vaksinasi? Buku ini bisa menyanggah teori konspirasi bahwa vaksinasi merupakan usaha yahudi untuk memusnahkan suatu kaum, sebab ceritanya terutama tentang vaksinasi di Amerika dan UK. Sejak jaman dulu sampai sekarang mereka sendiri yang menciptakan vaksin dan memberikannya pada jutaan penduduknya. Malah boleh dibilang jumlah vaksin yang diberikan jauh lebih banyak daripada yang diberikan di Indonesia sekarang, karena mereka punya uang untuk memberikan imunisasi gratis pada rakyatnya. Jadi…

Vaksinasi

John Salamone, Korban Vaksin Berhati Samudra

Marah? Kesal? Dendam dan kecewa berat sama vaccine karena KIPI nya? Jadi bencii banget sama vaksin? Wajar dong, sangat manusiawi, boleh banget koq :). Tapi kalo masih ada sedikit ruang di hati keinginan untuk meredamnya ke arah yang lebih positif, mungkin cuplikan cerita ini bisa membantu: John Salamone, Korban Vaksin Berhati Samudra   John Salamone namanya. Ia, bukan lelaki biasa. Di tahun 1990, David, anak lelakinya mendapatkan imunisasi polio. Dua minggu setelah divaksin , David tiba-tiba tak bisa membalikkan badan. David hanya mampu menggerakkan kepalanya ke depan dan belakang. Lebih parahnya lagi, David juga tak bisa menggerakkan kedua kakinya. Orangtua mana yang tak remuk hatinya. John sangat kaget. David menjadi lumpuh! Belakangan, kaki yang satu bisa digerakkan, tapi tetap saja, jika berjalan ia seperti pelaut mabuk. Pincang. John hanya bisa terdiam. Terpukul. Tiga tahun kemudian, penyebab kelumpuhan itu terkuak. David yang sejak lahir sering sakit-sakitan, mengeluh nyeri di badan, dan kerap minum antibiotic, dibawa ke dokter ahli rematologi. Ternyata ia memiliki kelainan imunitas tubuh, cacat bawaan dari lahir. Kelainan itu pulalah yang rupanya mengakibatkan David terkena polio. Ya, David terkena polio akibat oral vaksin polio yang diberikan kepadanya ketika bayi dulu. Kalangan medis sering menyebutnya dengan Vaccine-assosiated Paralysis (VAP), efek samping yang…