Review Buku: “Pilihan yang mematikan-Bagaimana gerakan anti vaksin mengancam kita semua”

‘Deadly Choices: How the Anti-Vaccine Movement Threatens Us All’ oleh Paul A. Offit, seorang professor pediatric dalam bidang penyakit infeksi, virology dan imunologi.

Buku ini sangat recommended untuk para orangtua yang sedang bingung soal pro dan kontra imunisasi, untuk para dokter, dan juga siapapun yang berkecimpung dengan dunia kesehatan anak-anak. Sayangnya, buku ini berbahasa Inggris, baru terbit pula, jadi pasti masih sulit didapatkan di Indonesia. Berikut ini sedikit cuplikan isinya, semoga biar pun tidak bisa membaca bukunya, masih bisa mendapatkan gambaran dan mendapatkan manfaatnya.

Buku ini membuat kita bisa melihat dari atas apa sih sebetulnya yang terjadi dengan dunia per-vaksinan di dunia sejak jaman dulu sampai sekarang. Bagaimana perjalanan pembuatan vaksin, apakah mulus-mulus saja? Bagaimana pula perjalanan para anti vaksin. Apa betul kandungan vaksin tidak aman? Apa pula bahayanya kalau sekelompok orang menolak vaksinasi? Buku ini bisa menyanggah teori konspirasi bahwa vaksinasi merupakan usaha yahudi untuk memusnahkan suatu kaum, sebab ceritanya terutama tentang vaksinasi di Amerika dan UK. Sejak jaman dulu sampai sekarang mereka sendiri yang menciptakan vaksin dan memberikannya pada jutaan penduduknya. Malah boleh dibilang jumlah vaksin yang diberikan jauh lebih banyak daripada yang diberikan di Indonesia sekarang, karena mereka punya uang untuk memberikan imunisasi gratis pada rakyatnya. Jadi teori konspirasi tentang pemusnahan umat Islam sungguh tak masuk akal.

Buku ini membuka mata pula bahwa apa yang terjadi belakangan di Indonesia, dimana sekelompok orang tidak mau memvaksin anaknya dengan alasan percaya hanya pada Allah, juga terjadi di Amerika Serikat. Kalau di Indonesia umumnya di kalangan beragama Islam, di Amerika terjadi pada kaum kristiani, nama kelompok mereka adalah Cristhian science. Kalau di Indonesia keyakinan tidak mau memvaksin masih dicampur dengan mau berobat ke dokter, kalau di kelompok Christian science tersebut mereka sama sekali menolak kedokteran modern, bahkan membiarkan saja anak-anaknya meninggal jika sakit tanpa memberikan pengobatan apapun. Menarik bukan?

Bukan saja mengungkapkan tentang anti vaksinasi, buku ini juga mengupas kegagalan-kegagalan dan proses yang terjadi saat vaksin dibuat. Pembuatan vaksin yellow fever yang terkontaminasi darah orang yang mengidap penyakit hepatitis B beberapa puluh tahun silam, telah mengakibatkan ratusan orang yang mendapatkan vaksin ini juga mengidap hepatitis B dan puluhan orang meninggal. Di masa lalu itu, pernah juga terjadi keteledoran dari sebuah perusahaan vaksin ketika membuat vaksin polio. Virus dalam pembuatan vaksin polio yang harusnya dibuat lemah ternyata tidak membuat virus melemah. Alhasil, 70 ribu orang malah terkena polio, 200 lumpuh dan 10 orang meninggal. Dari kejadian ini, keamanan perusahaan vaksin semakin diperketat. Kejadian lain juga baru saja terjadi. Vaksin rotavirus di tahun 2005 ketika pertama kali dicobakan kepada ratusan ribu anak di Amerika ternyata menyebabkan kasus intususepsi pada 17 anak. Namun CDC langsung bekerja, vaksin rotavirus segera ditarik dari peredaran, dan kemudian vaksin yang lebih aman segera dibuat. Dengan cerita-cerita tentang kegagalan ini penulis ingin menunjukkan bahwa CDC, AAP, FDA, dan perusahaan vaksin berusaha membuat vaksin seaman mungkin. Kegagalan-kegagalan ini dipaparkan juga untuk menunjukkan bahwa, tidak ada yang berusaha ditutupi. Kalau memang gagal ya gagal, kalau memang tidak aman ya tidak aman, tapi kemudian segera berusaha belajar dari kesalahan dan ditanggulangi. Alhasil, yang diproduksi sekarang adalah vaksin yang sudah dibuat melewati standar-standar agar aman.

Dari buku ini pula kita bisa paham bahwa grup anti vaksinasi sudah ada sejak vaksin mulai diciptakan, dan gaungnya pun naik turun hingga sekarang. Kadang begitu ramai sehingga pernah di tahun 50 an membuat perusahan vaksin hampir mati suri akibat issue vaksin DPT menyebabkan kelainan otak. Kadang sepi, kadang heboh lagi seperti belakangan ini sejak kasus MMR-autism merebak. Cerita-cerita seru dibalik para aktivis anti vaksinasi di Amerika Serikat dan London khususnya juga dipaparkan dengan menarik karena penulisnya piawai mendeskripsikan cerita dengan baik.

Jeanny McCharty, Barbara Loe Fisher, Oprah Winfrey, Cindy Crawfold, dokter Oz, dan lain-lain para seleb dan para dokter yang anti vaksinasi yang berperan besar dalam gerakan anti vaksinasi diceritakan dengan gamblang dalam buku ini. Para dokter yang mengaku ahli padahal ternyata tidak punya kredibilitas dalam bidang imunisasi dan kerap menjadi pembicara serta dipercaya oleh para anti imunisasi juga dibahas dalam buku ini. Para seleb dan dokter ini bisa dengan bebas membuat acara mempromosikan anti vaksinasi di TV yang lalu didengar oleh jutaan pemirsa Amerika atau membuat acara debat tapi dengan mengunggulkan para aktivis anti vaksin misalnya. Dampaknya tentu saja luar biasa, para anti vaksin di Amerika jadi semakin banyak tentunya. Tidak heran kalau website-website anti vaksin pun bertebaran di dunia maya, dari Amerika. Jadi kebayang kan betapa hebohnya gerakan anti vaksinasi di sana, bahkan dokter Offit sang penulis buku yang juga anggota CDC ini, kerap mendapat black mail, cacian dan ancaman pembunuhan karena kegigihannya memperjuangan vaksinasi, Alhasil setiap akan ngomong soal vaksin di kongres CDC, sang dokter selalu dikawal body guard. Serem kan, sampe sebegitunya ternyata ‘peperangan’ ini. Ups maaf kalo soal ancaman pembunuhan ini ga ada di buku, tapi baca di website penulis.

Selain cerita-cerita tentang gerakan anti vaksinasi, buku ini juga membahas tentang issue-isue yang kerap ditiup-tiupkan oleh para anti vaksin. Isue tentang vaksin DPT menyebabkan kelainan otak yang sebetulnya tidak, dan baru terungkap 20 tahun kemudian; Isue anak-anak korban vaksin yang ternyata tak ada hubungannya dengan vaksinasi, bantahan terhadap issue MMR menyebabkan autism, penjelasan tentang kandungan dan keamanan isi vaksin yang sering dikatakan tidak aman oleh para anti vaksin, juga tentang tuduhan pemerintah yang hanya jadi boneka pabrik vaksin dan motif uang semata. Ternyata kenyataan sebaliknya juga terjadi.

Sebagian para anti vaksin membantu orangtua yang merasa anaknya terkena dampak buruk akibat vaksin. Mereka bahkan diedukasi bagaimana caranya menuntut ke pengadilan, dan motifnya ternyata karena uang. Para lawyer dan advocate ini dapat uang sangat banyak dengan membawa kasus semacam ini ke pengadilan. Selain itu, ada udang juga di balik batu dari para anti vaksin dengan menjual jualannya seperti obat herbal, dan pengobatan alternative lainnya. Jadi, tak bisa dipungkiri, baik perusahaan vaksin maupun anti vaksin memang bisa bekerja bermotifkan uang. Yang penting adalah bicara bukti dan fakta. “Jika memang vaksin bisa menyelamatkan banyak orang , bermanfaat dan juga aman, mengapa harus menyerang soal konspirasi. Faktanya, dari berbagai penelitian ilmiah, vaksin terbukti aman, bermanfaat dan telah menyelamatkan banyak orang,” kata dokter Offit. Karena kalau mau serangan balik ya motif para anti vaksin yang jualan obat herbal, alternative dan membawa ke pengadilan, juga bisa dibilang teori konspirasi, begitu kata buku ini.
Namun dibalik cerita-cerita diatas, pesan penting utama dari buku ini adalah tentang banyaknya kesalahan informasi yang diberikan oleh para anti vaksin baik di media maupun di website-website. Pilihlah dan carilah good science, jangan bad science. Pesan penting lainnya adalah akibat buruk dari penolakan terhadap vaksin yang sungguh bisa fatal. Outbreak merebak dimana-mana, terutama di kelompok-kelompok yang menolak imunisasi; penyakit urdu yang dulu sudah bisa dikendalikan juga kembali muncul. Kalau para anti vaksin mengasihani anak-anak yang dikhawatirkan kena dampak buruk vaksin, pikirkan juga sebaliknya. Bagaimana dengan anak-anak yang tidak bisa divaksin karena daya tahan tubuhnya lemah lalu menjadi korban akibat banyaknya anak yang tidak mau divaksin. Jumlahnya juga banyak lho, ratusan ribu di Amerika sana. Anak-anak ini hanya bergantung pada kekebalan yang dibentuk dari komunitas. Kalau banyak anak yang tidak diimunisasi, kekebalan komunitas ini tidak terjadi. Anak normal bisa masih baik-baik saja kalau terkena campak misalnya, tapi bagi anak-anak yang lemah ini, nyawa mereka segera terancam karena akibatnya mereka bakal terkena campak dengan komplikasi paling buruk.

Di buku itu dicantumkan pula komentar orangtua dari anak-anak lemah ini,”Setiap orang memang punya hak untuk tidak mau mengimunisasi anaknya. Tapi coba tolong pikirkan anak-anak lain seperti anak saya yang kekebalan tubuhnya rendah. Silahkan saja memilih untuk tidak diimunisasi, tapi tolong tinggal lah terpisah di pulau sendiri bersama komunitas anti vaksin lainnya, agar keputusan kalian tidak merugikan anak yang lain.”

Ada juga komentar dari seorang ibu yang anaknya punya kekebalan tubuh rendah, lalu cacat setelah terkena meningitis akibat tinggal di daerah dengan cakupan imunisasi Hib rendah.”Orangtua hendaknya sadar,” kata si ibu.”Bahwa ketika mereka memutuskan untuk tidak mau mengimunisasi anaknya, artinya mereka juga sedang membuat keputusan untuk anak orang lain.”
Dari buku ini, tampak pula betapa persoalan pro dan anti vaksinasi ini bukan persoalan yang mudah untuk diselesaikan. Dulu, Amerika memaksa penduduknya untuk divaksin, yang tidak mau divaksin ditangkap masuk penjara. Belakangan, cara ini ditentang dan dianggap melanggar HAM, akhirnya dibuat undang-undang, tiap anak yang masuk sekolah harus divaksin,kalau tidak, tidak boleh sekolah. Undang-undang ini dibuat, karena meskipun setiap orang punya hak untuk tidak mengimunisasi, tapi keputusannya bisa merugikan orang lain. Jadi tidak bisa dibiarkan begitu saja bebas memilih, tetap ada konsekwensi dari pilihan yang merugikan. Kebijakan ini membuat cakupan imunisasi meningkat. Namun, tidak berlangsung lama, beberapa kelompok seperti Christian Science protes dan tetap menolak untuk diimunisasi. Akhirnya kelompok-kelompok seperti ini mendapatkan pengecualian. Pemerintah Amerika kembali harus talik ulur karena memang persoalan ini sungguh tidak mudah.

Bagaimana dengan di Indonesia? Gaungnya memang tidak seheboh di Amerika, tapi mungkin suatu saat bisa menjadi kian heboh dan semakin banyak memunculkan outbreak? Wallahualam. Bagaimana tindakan pemerintah? Wallahualam juga. Tapi setidaknya, sebagai individu, sebagai orangtua, mari kita belajar dari kasus di Amerika.